Kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), menjanjikan berbagai kemudahan, inovasi, efisiensi, dan peluang baru bagi masyarakat modern.
Namun, di balik janji manis tersebut, muncul pula ancaman serius, salah satunya adalah deepfake. Teknologi ini memungkinkan penciptaan konten visual dan audio yang sangat realistis, namun palsu. ​Fenomena deepfake tidak hanya menantang kepercayaan publik terhadap informasi digital, tetapi juga menimbulkan risiko signifikan terhadap keamanan individu, institusi, hingga stabilitas global.​
Deepfake Mengguncang Sistem Keamanan Perbankan
Proses Know Your Customer (KYC) dalam perbankan modern sangat mengandalkan verifikasi digital, termasuk panggilan video. Verifikator bank sering kali percaya pada visual dan suara yang tampak nyata, sesuai dengan prosedur operasional standar (SOP). Proses ini mempermudah pembukaan rekening tanpa perlu kehadiran fisik, dikenal sebagai digital onboarding.
Namun, kenyamanan ini kini terancam oleh deepfake. Modus baru kejahatan menunjukkan bahwa verifikator dapat terkecoh oleh sosok palsu yang diciptakan melalui deepfake. Akibatnya, rekening dibuka atas nama orang yang tidak seharusnya, berpotensi digunakan untuk aktivitas ilegal seperti pencucian uang, narkoba, judi online, atau bahkan pembiayaan terorisme.
Insiden ini mengguncang sistem keamanan perbankan, dan dampaknya bisa meluas ke sistem keuangan global. Dengan lemahnya kesadaran perlindungan identitas diri di Indonesia, penyalahgunaan data pribadi dan deepfake menjadi pintu masuk kejahatan berbasis AI yang semakin canggih dan meresahkan.
Ekosistem Deepfake Dan Perdagangan Data Pribadi
Pelaku kejahatan deepfake menggabungkan data pribadi yang mereka kuasai dengan wajah dan suara imitasi. Data asli ini sering dikumpulkan dari jejak digital seseorang melalui interaksi di media sosial dan platform digital lainnya, menciptakan sosok imitasi yang sempurna untuk memanipulasi verifikasi identitas.
Alanna Titterington (2024) dalam artikelnya “How Fraudsters Bypass Customer Identity Verification Using Deepfakes” menjelaskan adanya situs web bawah tanah yang memperdagangkan foto dan video individu untuk menghindari verifikasi KYC. Situs ini menawarkan berbagai koleksi konten deepfake dari berbagai usia, jenis kelamin, dan etnis.
Bahkan ada “sukarelawan” dari negara-negara kurang beruntung yang dibayar antara US$5-$20 untuk merekam konten. Konten ini kemudian dijual kembali dengan harga kurang dari US$30, lengkap dengan berbagai skenario. Termasuk gambar dengan kartu putih untuk diganti dengan dokumen identitas palsu.
Baca Juga:Â Melejit di Era Digital: Strategi Sukses Untuk Startup dan Bisnis Online
Ancaman Deepfake Melintasi Berbagai Sektor
Meskipun deepfake memiliki potensi manfaat di bidang kesehatan, pemasaran, politik, dan pendidikan, realitasnya sering disalahgunakan untuk tujuan merugikan. Mea-Integrity.com (2026) dalam “8 Deepfake Threats to Watch in 2026” mengidentifikasi delapan ancaman utama, mulai dari tingkat makro hingga mikro.
Ancaman ini mencakup campur tangan politik, seperti kasus mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menjadi korban deepfake dengan pernyataan “Guru adalah beban negara” yang tidak pernah diucapkannya. Ada juga konten terorisme daring yang menyebarkan video serangan palsu untuk memancing kepanikan publik.
Di sektor keuangan, deepfake digunakan untuk penipuan, seperti yang dialami direktur keuangan multinasional di Singapura yang menyetujui transfer US$499.000 karena panggilan Zoom palsu. Selain itu, penyalahgunaan gambar tanpa persetujuan, pelecehan seksual, pemerasan, dan ancaman terhadap peradilan pidana juga menjadi dampak buruk deepfake.
Tantangan bagi Kepercayaan Dan Masa Depan AI
Realitas deepfake saat ini menimbulkan pertanyaan fundamental: apakah kemajuan teknologi justru memusuhi manusia? Kemampuan AI yang semakin banyak menggantikan peran manusia. Ditambah dengan penyebaran konten deepfake yang sulit dibedakan dari aslinya, mengikis kepercayaan kita terhadap dunia digital.
Kasus Mendones vs Cushman & Wakefield pada September 2025 di mana hakim di California memberikan sanksi PHK karena penggunaan dua video deepfake sebagai bukti. Menunjukkan betapa teknologi ini telah masuk ke ranah hukum. Meskipun video tersebut masih dibuat dengan buruk, kemajuan AI akan membuatnya semakin sempurna.
Kondisi ini memaksa kita untuk menunda rasa percaya terhadap informasi yang kita terima. Pertanyaan krusial muncul: masihkah layak janji teknologi untuk membahagiakan manusia terus digenggam, ketika sisi gelapnya mengancam fondasi kepercayaan dan keamanan kita?
Akses rangkuman informasi terbaru dan terpercaya lainnya untuk menambah wawasan Anda hanya di SMART DIGITAL.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar pertama dari poltekssn.ac.id
- Gambar Utama dari binus.ac.id